Kenapa Kita Harus Hemat Kertas
Monday, January 18, 2016
Kenapa Kita Harus Hemat Kertas. Sekarang ini, kertas merupakan salah satu kebutuhan penting pokok, walaupun penggunaan kertas untuk media cetak sudah mulai tergerus oleh adanya perangkat digital tetapi kenyataannya penggunaan kertas masih terus meningkat. Salah satu pengguna kertas potensial adalah dunia pendidikan. Apakah mungkin penggunaan kertas untuk dunia pendidikan dikurangi? Sekarang ini banyak sekali hal-hal yang seharusnya tidak perlu dicetak harus dicetak berulang-ulang setiap saat. Pengtingkah mengurangi kertas?
Beberapa kampus besar di Indonesia sudah mulai peduli dengan pengurangan penggunaan kertas, dengan menerapkan program "paperless office". Penggunaan kertas hanya untuk hal-hal yang memang urgen untuk dicetak, jika memungkinkan untuk penggunaan file kenapa harus dicetak pada kertas. Mengurangi kertas menggunaan kertas berarti menyelamatkan pohon dan menyelamatkan dunia.
Sebagian besar kertas dibuat dari pohon pinus dan pada pohon pinus yang sudah dewasa mempunyai diameter sekitar 30 cm dan tingginya 18,3 meter. Dengan mengabaikan keruncingannya, kira-kira 1,3 meter persegi dari pohon (pi x radius persegi empat x panjang = 3,14 x 6 x 6 x 60 x 12). Jadi, 2 x 4 bagian kayu beratnya kira-kira 4,5 kilogram dan memuat kayu 0,008 meter kubik (3,5 x 1,5 x 8 x 12). Hal ini berarti berat satu pohon pinus kira-kira 730 kilogram. Pabrik pembuat kertas akan mengubah kayu menjadi bubur. Hasilnya kira-kira 50% atau setengah dari pohon adalah simpul, lignin, dan bahan-bahan lainnya yang tidak baik digunakan untuk membuat kertas. Jadi, hasil satu pohon pinus kira-kira 365 kilogram kayu.
Satu rim kertas mempunyai berat kira-kira 2,27 kilogram (5 pon) dan terdiri atas 500 lembar kertas. (Kita sering melihat kertas digambarkan sebagai stok 20 pon atau stok 24 pon. Gambaran ini menggantikan berat dari 500 lembar dari 17 inci x 22 inci kertas). Jadi sebuah pohon akan menghasilkan 805/5 x 500 atau.. 80.500 lembar kertas.
Cukup rumit memang, tapi itulah kira-kira gambaran pengunaan kertas kita. Data kerusakan hutan di Indonesia memang masih simpang siur dan belum ada data yang tepat, karena adanya perbedaan persepsi dan kepentingan dalam mengungkapkan data tentang kerusakan hutan. Laju deforestasi di Indonesia menurut perkiraan World Bank antara 700.000 sampai 1.200.000 ha per tahun, dimana deforestasi oleh peladang berpindah ditaksir mencapai separuhnya. Namun World Bank mengakui bahwa taksiran laju deforestasi didasarkan pada data yang lemah.
Sedangkan menurut FAO, menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1.315.000 ha per tahun atau setiap tahunnya luas areal hutan berkurang sebesar satu persen (1%). Berbagai LSM peduli lingkungan mengungkapkan kerusakan hutan mencapai 1.600.000 – 2.000.000 ha per tahun dan lebih tinggi lagi data yang diungkapkan oleh Greenpeace, bahwa kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3.800.000 ha per tahun yang sebagian besar adalah penebangan liar atau illegal logging. Sedangkan ada ahli kehutanan yang mengungkapkan laju kerusakan hutan di Indonesia adalah 1.080.000 ha per tahun.
Sebagai gambaran luas pulau Bali adalah 5.636,66 km2 atau 563.666 ha, sehingga bisa dibandingkan berapa luas laju deforestasi hutan di Indonesia. Banyak sekali dampak yang diakibatkan oleh berkurangnya hutan di Indonesia.
Oleh karena itu marilah kita stop deforestasi hutan di Indonesia dengan salah satu cara mengurangi kertas. Semakin sedikit kita mengkonsumsi kertas, semakin sedikit pohon yang akan tertebang untuk dibuburkan hingga menjadi kertas itu. Marilah kita berusaha untuk melestarikan lingkungan mulai dari diri kita sensiri, dari tingkatan yang rendah dahulu, hingga akhirnya mencapai cakupan yang lebih luas. Tidak akan pernah ada kerugian yang kita peroleh jika alam kita kembali lestari. Bumi semakin segar, polusi semakin lenyap, dan hidup semakin sehat.
Hemat kertas, selamat pohon, selamatkan hutan, selamatkan dunia!
(Dwi Susilo, dari berbagai sumber)
Beberapa kampus besar di Indonesia sudah mulai peduli dengan pengurangan penggunaan kertas, dengan menerapkan program "paperless office". Penggunaan kertas hanya untuk hal-hal yang memang urgen untuk dicetak, jika memungkinkan untuk penggunaan file kenapa harus dicetak pada kertas. Mengurangi kertas menggunaan kertas berarti menyelamatkan pohon dan menyelamatkan dunia.
Sebagian besar kertas dibuat dari pohon pinus dan pada pohon pinus yang sudah dewasa mempunyai diameter sekitar 30 cm dan tingginya 18,3 meter. Dengan mengabaikan keruncingannya, kira-kira 1,3 meter persegi dari pohon (pi x radius persegi empat x panjang = 3,14 x 6 x 6 x 60 x 12). Jadi, 2 x 4 bagian kayu beratnya kira-kira 4,5 kilogram dan memuat kayu 0,008 meter kubik (3,5 x 1,5 x 8 x 12). Hal ini berarti berat satu pohon pinus kira-kira 730 kilogram. Pabrik pembuat kertas akan mengubah kayu menjadi bubur. Hasilnya kira-kira 50% atau setengah dari pohon adalah simpul, lignin, dan bahan-bahan lainnya yang tidak baik digunakan untuk membuat kertas. Jadi, hasil satu pohon pinus kira-kira 365 kilogram kayu.
Satu rim kertas mempunyai berat kira-kira 2,27 kilogram (5 pon) dan terdiri atas 500 lembar kertas. (Kita sering melihat kertas digambarkan sebagai stok 20 pon atau stok 24 pon. Gambaran ini menggantikan berat dari 500 lembar dari 17 inci x 22 inci kertas). Jadi sebuah pohon akan menghasilkan 805/5 x 500 atau.. 80.500 lembar kertas.
Cukup rumit memang, tapi itulah kira-kira gambaran pengunaan kertas kita. Data kerusakan hutan di Indonesia memang masih simpang siur dan belum ada data yang tepat, karena adanya perbedaan persepsi dan kepentingan dalam mengungkapkan data tentang kerusakan hutan. Laju deforestasi di Indonesia menurut perkiraan World Bank antara 700.000 sampai 1.200.000 ha per tahun, dimana deforestasi oleh peladang berpindah ditaksir mencapai separuhnya. Namun World Bank mengakui bahwa taksiran laju deforestasi didasarkan pada data yang lemah.
Sedangkan menurut FAO, menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1.315.000 ha per tahun atau setiap tahunnya luas areal hutan berkurang sebesar satu persen (1%). Berbagai LSM peduli lingkungan mengungkapkan kerusakan hutan mencapai 1.600.000 – 2.000.000 ha per tahun dan lebih tinggi lagi data yang diungkapkan oleh Greenpeace, bahwa kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3.800.000 ha per tahun yang sebagian besar adalah penebangan liar atau illegal logging. Sedangkan ada ahli kehutanan yang mengungkapkan laju kerusakan hutan di Indonesia adalah 1.080.000 ha per tahun.
Sebagai gambaran luas pulau Bali adalah 5.636,66 km2 atau 563.666 ha, sehingga bisa dibandingkan berapa luas laju deforestasi hutan di Indonesia. Banyak sekali dampak yang diakibatkan oleh berkurangnya hutan di Indonesia.
Oleh karena itu marilah kita stop deforestasi hutan di Indonesia dengan salah satu cara mengurangi kertas. Semakin sedikit kita mengkonsumsi kertas, semakin sedikit pohon yang akan tertebang untuk dibuburkan hingga menjadi kertas itu. Marilah kita berusaha untuk melestarikan lingkungan mulai dari diri kita sensiri, dari tingkatan yang rendah dahulu, hingga akhirnya mencapai cakupan yang lebih luas. Tidak akan pernah ada kerugian yang kita peroleh jika alam kita kembali lestari. Bumi semakin segar, polusi semakin lenyap, dan hidup semakin sehat.
Hemat kertas, selamat pohon, selamatkan hutan, selamatkan dunia!
(Dwi Susilo, dari berbagai sumber)
0 comments:
Post a Comment